Pengantin Baru…

Lelaki itu…

Ingin kusapa selalu di setiap senyumanmu padaku

Bahagiamu kini adalah bahagiaku

Cabik rasa sakitmu kini adalah juga sakitku

Ungkapkan semua padamu

Indahnya pacaran itu

Setelah kau meminangku

Tak ada keraguan sayu

Walau pilu jadi cerahnya biru

Doaku di setiap perjuanganmu

Kaulah keistiqomahan dalam langkah-langkah suciku

Dan lelaki itu adalah kau suamiku

By : Petang

 

Perempuan itu…

Aku seperti tak mengenalnya

Ia begitu misterius

Tiba-tiba membawa kesan hidupku yang lebih serius

Kehadirannya mengisi bagian ruang yang selama ini kubiarkan kosong

Aku telah dibuatnya grogi sejadi-jadinya

Aku telah dibuatnya gemetar yang getaranya menembus jiwa

Perempuan itu…

Tiba-tiba aku dibuatnya manja

Seperti balita yang belajar mengeja senja

Ia membuatku harus banyak belajar

Seperti bayi kumbang yang harus belajar mengenal bunga

Seperti rerumput yang belajar hangatnya mentari

Perempuan itu…

Ia adalah istriku

Perempuan yang selama ini bersembunyi di peraduan waktu dan takdir Tuhan.

By : Eru Zain

Iklan

Sepucuk Cinta Dari Sang Punuk

Oleh : Eru Zain
Setiap kata memberi makna
Setiap kisah tak  hilang dari resah
Setiap malam tak lepas dari kelam
Setiap rindu ingin hati bertabu
Itulah kilah yang tak kalah
 
                        Setiap hati pernah dibenci
                        Jadikan rasa lebih berasa
                        Hidup lebih hidup
 
Malam tanpa bulan
Air tanpa ikan
Ranting tanpa daun
Kincir tanpa angin
 
                        Semua akan terdiam
                        Tanpa bulan menyinari
                        Tanpa air yang beriak
                        Ranting pun rapuh tanpa daun
                        Hinga kincir terdiam bisu
 
Itulah aku tanpa cinta
Aku sang punuk mengirimkan sepucuk cinta ini

Untukmu wahai rembulan yang selalu kurindu.

Wanita Sejati

Oleh : Eru Zain
 
Dia itu …
Lebih berharaga dari dunia beserta isinya
Lebih sejuk dari putri senja
Lebih segar dari mawar bergaris
Lebih jernih dari relung telaga
Lebih putih dari bulir salju
Lebih hangat dari mentari pagi
 
                        Sesegar telaga la kautsar
                        Sesuci air wudhu
                        Sesejuk udara subuh
                        Setulus angin bertiup
                        Sekilau zamrud katulistiwa
 
Menghiasi kehidupan
Mengisi kesepian
Memenuhi sebuah janji
Menyampaikan amanah
 
                        Itulah kau wahai kau manis di kejuruan
                        Kau surga bukanlah neraka
                        Kau madu bukanlah racun
                        Ukhti… wanita salihah

Tak Ayal

Oleh : Eru Zain 
 
Mentari kecil menari di upuk mata
Semakin hari wajahnya makin merona
Mengisi lubuk dalam jeritan sepi
Menjadi teman penuh sejati
 
                        Teman, saudara atau musuh
                        Pantaskah ku sandang melalui kata?
                        Bolehkah ku sapa dia ?
                        Atau hanya untuk kujaga semata?
 
Wahai sahabatku katakanlah
Wahai sahabatku ungkapkanlah
Wahai angin berdiamlah
Berjalanlah dengan masalah
Berjuanglah dengan basmallah
 
                        Kini sosok mu telah pergi
                        Tak lagi memberi warna nan khusus
                        Perlahan kudekap dada ku
                        Ku tangkis hunusan pedang iri
 
Semuanya terbaik
Semuanya terburuk
Ku kenang senyummu

Begitu indah dalam ingatan yang pergi

Merah

Oleh : Eru Zain
 
Secarcik kertas yang diberikan
Semerbak harum terpancarkan
Seperti tak asing dalam mimpi
Walau itu memang bukan bermaksud
 
                        Di hari yang bodoh
                        Di lembaran yang tak mesti untuk itu
                        Ku turunkan wajah yang rapuh
                        Walau  sedikit begitu rahsia
 
Senyummu dalam angin februari
Tatap mu adalah teka-teki
Angin yang mengantarkan untukku
Cahaya yang menyinari tanpa redup
 
                        Kini sunyi tiba
                        Sangat jelas begitu jelas
                        Tak perkenan menusuk rasa
                        Bodohnya aku dalam tanggapan itu
 
Ikhlas… ku ingin tanamkan
Untuk siapakah dia?
Begitu laskar yang berharap
Membuatku mundur begitu jauh
 
                        Wahai sweater merah
                        Hangatkan tubuhnya
                        Ya Allah berikan kebaikan untuknya
Berikan ketabahan untukku yang merana
 
Semoga ia hadir untukku
Walau hanya dalam pikir dalam mimpi
Semoga ia terjaga

Dari kebejatan-kebejatan orang sepertiku.